Inikah Rasanya Berkerja di ASRI (Alam Sehat Lestari)

Foto bareng orangutan memperingati hari pertama pakai seragam muhehe :D

Inikah Rasanya Berkerja di ASRI (Alam Sehat Lestari) - Assalamu’alaikum. Hallo semuanya!

Lulus kuliah mau kemana? Lanjut S2? Atau kerja? Atau dan atau lainnya?
Menjelang wisuda dan menyandang gelar sarjana, Bee memantapkan hati, “Oke lanjut kuliah.” Tapi Bee pengennya beasiswa dan kuliah di luar negeri. Hehe, namanya juga impian. Setelah melewati berbagai proses, akhirnya Bee memutuskan untuk berburu lowongan kerja saja.

Nah sewaktu shalat Bee kurang lebih sering berdoa begini, “Ya Allah, tunjukanlah perkerjaan yang terbaik untuk saya menurut Engkau. Pengennya kerja yang sesuai dengan passion. Nulis, blog dan jalan-jalan. Terus kerjanya di lembaga sosial gitu dan… (*sisanya rahasia hehe).”

Eng ing eng
Beneran Allah memberikan pekerjaan yang mirip dengan doa diatas. Kerja di NGO dan ditempatkan di bidang yang kerjaannya berburu tulisan dan cerita.

Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI).

Sebuah lembaga non-profit yang bergerak dalam bidang sosial berupa kesehatan manusia dan pelestarian alam di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

Klinik ASRI dari depan
Dimana tuh? Masih salah satu kabupaten di daerah Kalimantan Barat kok. Kalau dari Jakarta, naik pesawat dua kali, setelah itu naik kendaraan mobil atau motor 2 jam dan sampe deh.

Nah hal pertama yang menarik perhatian Bee saat mencari tau tentang ASRI di internet adalah slogannya:
Saving Rainforest with a Stethoscope. Selamatkan Hutan dengan Stetoskop.”

Bee pun berpikir, seperti apa sih menyelamatkan hutan dengan stetoskop itu? Zaman now yang serba canggih ini, cukup ask OK Google saja. Berdasarkan hasil pencarian, secara garis besar Yayasan Alam Sehat Lestari ini percaya bahwa kesehatan dan pelestarian lingkungan itu berhubungan erat. Pemikiran sederhananya begini: Hutan sehat, manusia juga sehat. Kalau hutan rusak, akibatnya debu, asap, banjir, kekeriangan dan sudah pasti manusia juga ikutan ‘rusak’ alias sakit-sakitan. Bener gak tuh?

Demi mewujudkan itu, program-program di ASRI begitu banyak. Ada Program Pelayanan Kesehatan seperti Klinik ASRI. Ada juga program Mata Pencaharian Alternatif seperti Kambing untuk Janda dan masih banyak lagi program lainnya. Kalau diceritakan semua yang ada artikel blog ini panjang menuju angkasa, hehe.

Kalau mau lihat-lihat tentang ASRI, kalian bisa berselancar langsung di google. Sebab di blog post kali ini Bee bukan mau cerita panjang lebar tentang program ASRI. Melainkan pengalaman menjadi bagian dari ASRI. Yeeeeee!

Sedotan


Bicara sedotan, ini gak ada hubungannya dengan joke: “Iya, kamu cakep kalau dilihat dari jauh pake sedotan.”

Sebelum ke topik sedotan, Bee cerita dulu nih awal datang ke ASRI, yang mana masih ada sangkut pautnya dengan sedotan.

Sore hari di hari pertama kedatangan ke Sukadana, saya ikut Kak Vita ke pasar. Untuk staf seperti Bee yang bukan berdomisili Sukadana, transportasi yang diberi ASRI ialah sepeda, bukan motor. Dalam hati berkomentar, “Ooooh, konsep ramah lingkungan dan hidup sehat, ya pake sepeda.” Berangkat dah tuh dari rumah ke pasar gowes sepeda.

Sepedaan
Setelah semua barang yang ingin dibeli ketemu, Kak Vita nyodorin tas ke Ibu yang jualan dan sambil ngomong, “nggak usah pake kantong plastik, bu.”

“Ooooh, hemat dan mengurangi sampah kantong plastik,” spontan Bee berkomentar dalam hati (lagi). Begitu juga di kantor, Bee perhatiin semua karyawan ASRI pada bawa botol minum masing-masing.

Yang bikin kaget itu, sedotan. Haha, kalian mungkin udah kebayang gimana jalan ceritanya. Jadi Bee dan teman-teman kantor lainnya pergi makan siang di tempat makan gitu. Selesai pesan makanan dan minuman, Mba Etty bilang ke mas-mas yang jualan, “Minumannya nggak pakai sedotan ya, mas.”

What! Jujur baru kali itu dan pertama kalinya dalam hidup Bee, ada orang pesan minuman nggak pakai sedotan. Karena orang-orang pada umumnya pesan minum, kalau nggak pake es, ya nggak pake gula. Lah ini nggak pake sedotan. Terus Bee cepat sadar, oh iya saya kan lagi bareng ASRI yang mana mereka memang aware lingkungan.

Karena penasaran seberapa bahayannya sampah sedotan minuman, Bee baca-baca beberapa artikel di google. Ternyata sampah sedotan minuman merupakan salah satu sampah plastik yang sangat berbahaya. Jika jumlah seluruh sampah sedotan di Indonesia selama seminggu direntangkan, maka akan mencapai 117.449 km, atau sama dengan tiga kali keliling bumi. 

Perubahan atau perbedaan yang Bee temukan disini nggak cuma terkait lingkungan, tapi juga kesehatan. Misalnya saat makan bareng di luar, hand sanitizer pasti ada di meja. Lalu saat Bee masak dan wadah makanannya dari plastik, teman-teman langsung menasehati.

Dari pengalaman-pengalaman di atas, Bee jadi belajar untuk lebih peka dan terbiasa untuk hidup sehat dan ramah lingkungan.

Hangout Anti-Mainstream Setelah Kerja


Alhamdulillah tak terasa Januari ini memasuki bulan ketiga saya di ASRI. Mungkin kalau nggak berkerja disini, saya nggak akan pernah lihat orangutan di habitatnya langsung. Nggak akan pernah merasakan bagaimana serunya kegiatan konservasi dan nggak banyak tau informasi kesehatan. Lalu bisa melihat bintang jatuh, mendengar suara enggang dan melakukan perjalanan-perjalanan ke lokasi terpencil yang minim listrik juga sinyal.


Poin tambahan yang bikin nyaman kerja disini ialah jauh dari bisingnya kemacetan kota besar. Pagi-pagi yang didengar suara jangkrik, burung bahkan Owa atau sebutan disini kelempiau. Pemandangan hutan, kiri-kanan gunung, udara segar. Bukan mendengar suara kendaraan atau getaran truck yang lewat seperti waktu kuliah dulu.

Bee dan dan teman-teman kantor kadang-kadang selepas kerja punya tempat nongkrong favorit. Kalau umumnya orang-orang sepulang kerja jalan ke mall atau cafe, sedangkan kami hangout-nya ke pantai ataupun dock yang dekat dari kantor. Disana bisa minum air kelapa gratis, memandang laut, menunggu sunset, ngobrol random. Tawa dan senyum menyemburat bersama langit senja yang merona *eya.

Main ke dock lama
Hangout after work :D
Hmmm kalau dijabarkan lebih jelas lagi how grateful I am to be part of ASRI, nanti bakal mengular blogpost ini kayak naga. Jadi segini aja dulu deh cerita Inikah Rasanya Berkerja di ASRI (Alam Sehat Lestari). Sampai jumpa di tulisan Bee selanjutnya. Terus bersyukur dan tebar kebaikan. Salam.

Comments

  1. Wah aku baru tahu soal NGO dr postingan ini. Seru juga ya kerja di sini. Pasti asik nih tiap hari lihat alam yang asri. Kalian yang kerja di ASRI ini pasti orang2 pilihan yang tahan banting. Aku pernah kerja ke pelosok jd penyuluh usaha menengah kebawah, bener2 serba sederhana, tapi bonusnya bisa lihat pantai yg indah.

    Jd pengen coba kerja di NGO ASRI, andai iti msh di wilayah Lampung 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. oooh mba speti juga pernah kerja di daerah yang jauh dari kota juga. Ah, setuju, bonusnya kerja di tempat seperti ini, alamnya ya mba.

      Delete
  2. Kayaknya asik juga yaa kerja di NGO, aku sendiri malah belum tau setelah wisuda nanti mau kerja apa. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. i feel you. Itu yang aku rasakan dulu. Saran saya mulai dari sekarang baiknya sudah dipikirkan mau bagaiaman setelah wisuda. Semangat Nindya, wish you all the best.

      Delete
  3. Okaaaa..seneng bgt tempat kerjanya..banyak pengalaman br ya dsana. Klo boleh saran, bertahan dl 2 thn disana dear, insy nanti lbh mudah jln dpt beasiswanya..aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin. ooh gitu ya mba des? Mesti 2 tahun? Btw Terima kasih sarannya. Mohon doa terbaiknya ya.

      Delete
  4. Masya Allah Mbak..keren banget bisa ikut menjadi bagian dari organisasi yang peduli lingkungan seperti ASRI ini..Terus semangat untuk menyebarkan pentingnya peduli pada lingkungan sekitar pada sesama ya...
    Ditunggu kisah-kisah selanjutnya dari Kayong Utara :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Okeeee... Doain aja saya nya nggak mager nulis. Ini aja lama banget baru update muhehe.

      Delete
  5. Wah alhamdulillah bacanya ikut seneng, oka.
    selamat menikmati dunia kerja yang menyenangkan yaa :)

    ReplyDelete
  6. eh iya bener... aku jarang sekali bilang tanpa sedotan karena ga kepikiran. jarang juga dipake sih sebenernya.. lebih suka langsung teguk.... besok2 mau coba bilang ga pake sedotan aja deh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Janji ya? Hehe. Jangan lupa cerita ya pengalaman pesan minumannya gak pake sedotan hehe.

      Delete
  7. mantap kak oka, blog nya sdh dua ya? Ntar tulisan yang ini dengan blog satunya lagi di link-kan. Terus juga di link-kan dengan fb Alam Sehat Lestari; dan khusus blog yang satunya lagi bisa yang berbahasa Inggris.

    Terus, untuk tulisan: tak mesti panjang, tapi per minggu bisa satu tema, tapi yang berkaitan, walaupun bukan sub tema tapi bisa nyambung.

    Tapi yang penting, sudah hebat dah, jempol empat untuk kak oka.

    ReplyDelete
  8. Mba Balqis patut berbangga hati sebagai anak muda masa kini mau bekerja di NGO yang berfokus pada issue-issue lingkungan hidup, lokasinya pun cukup jauh dari Ibu Kota RI. Waktu masih tinggal di daerah Tangerang Selatan, saya kalau belanja ke supermarket atau mall, harus bawa kantong sendiri lho karena memang nggak di sediakan kantong plastik oleh banyak merchant di sana. Tapi sekarang tinggal di Makassar, akhirnya balik lagi ke habit lama xixxi. Kemunduran banget yaa.

    -www.fillyawie.com-

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaaa sayang sekali. Ayo mba Fillyawie, semangat kembali menggunakan tas belanja lagi ya :)

      Delete
  9. Sekarang aktif disini ya Kak?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts