Sebelum dan Setelah Merantau


Sebelum dan Setelah MerantauAssalamu’alaikum. Hallo semuanya!

Ide tulisan kali ini terinspirasi dari percakapan Bee dan teman-teman di pantai sepulang kerja. Kalau sudah ngumpul bareng, ada saja topik pembicaraan yang bisa jadi bahan tulisan. Ya seperti ini nih. Fyi, nama orang di tulisan ini Bee samarkan menjadi Bunga dan Kumbang ya. Ntar kalau udah berubah namanya, berarti orangnya udah kasih restu izin.


 ---
“Eh serius, gue beneran kaget pas tau kalian nggak pake helper. Lah, gue mana sanggup nyuci baju dan masak sendiri. Untung-untung bisa potong serei, haha,” ucap Bunga dan spontan kami yang mendengar tertawa, hehe.
“Yaaa, kalau nyuci baju, aku pernah lah. Itupun semenjak merantau,” timpal Kumbang, teman Bee lainnya.
Bee sebenarnya juga lupa sih gara-gara apa pembicaraan masak dan nyuci ini bermula. Namun gara-gara obrolan tersebut Bee jadi punya ide nulis tentang, “apa hal yang sebelumnya nggak pernah dilakukan di rumah, tapi jadi ngelakuinnya saat di tanah rantau?”

Sebab dari itu munculah blog post ini. Tara~

Perubahan yang paling ketara banget di hidup Bee saat merantau adalah selera makanan.

Bee itu termasuk tipe yang picky eater alias pemilih gitu. Nggak suka pedas dan sayur pare, terong juga jantung pisang. Tapi kenyataan di lapangannya, hampir semua makanan yang dijual di dekat kampus pakai cabe. Telur dicabein, ikan dicabein, terong dicabein, orek tempe juga ada dicabein. Sayurnya juga dikasi potongan cabe, which is yang ada dalam otak Bee, nih sayur pasti pedas.

Waktu tahun pertama, Bee masih doyan ‘nyuci’ ikan tongkol cabe dengan kuah sop. Kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa gak beli yang nggak ada cabe? Well, yang selalu ada, murah dan enak, ya cuma ikan itu.

Nah semenjak menjadi mahasiswa tingkat akhir, Bee penasaran, seenak apa makan pakai sambal itu? Kok teman-teman kos, keliatan nikmat banget makannya. Percobaan pertama, sambalnya dikasi kecap banyak-banyak, antisipasi biar nggak kepedasan. Sekali coba cocolin tempe ke sambal, dan hap masuk ke mulut, eh lumayan wuenak ternyata. Sambal yang bikin Bee luluh itu, sambal buatan Bu Ika, nom, nom, nom.

Pencapaian lainnya saat merantau adalah makan pare. Ini terjadi pas sekarang merantau di Sukadana. Meskipun begitu Bee masih nggak sanggup makan pare banyak-banyak. Nggak kuat sama rasa pahitnya itu loh.

Tentu saja perubahan setelah merantau nggak cuma urusan perut. Ada juga pengalaman dan persoalan yang pernah dialami dan akhirnya membuat Bee belajar untuk menghadapinya dengan sok bijak. Seperti menjaga kesehatan, mengelola uang, mengatur waktu, cara berempati dan lain-lain. Meskipun sampai sekarang masih belum bisa dibilang pintar ngatur duit apalagi waktu, hehe.

Hal yang paling berasa banget ketika merantau itu adalah rindu suasana rumah, rindu aroma masakan mama, rindu suara ayah setiap subuh bangunin shalat, rindu canda tawa di ruang tengah dan banyak lagi. Saat di rumah, Bee masih bisa manja-manja bandel gitu. Eh sekali di tanah rantau, malah kangen diomelin Mama dan Ayah, muhehe. Jadi sadar, ternyata kalau udah jauh dari keluarga dan orangtua itu benar-benar berasa keluar dari zona nyaman.

Ini hanya sekelumit cerita Bee di tanah rantau. Tentu saja nggak bisa jadi patokan bahwa apa yang saya alami akan sama dengan teman-teman yang merantau lainnya. Buktinya Kumbang, teman Bee yang udah lama di Sukadana (kotanya durian), tetap nggak suka tuh sama Durian, muhehe.

Katanya hidup merantau itu bisa buat orang tambah dewasa dan mandiri. Ah, menurut Bee tergantung pribadi masing-masing kok. Oh ya, ada kalimat motivasi yang terus Bee ingat, mungkin kalian juga udah pernah dengar.

“Merantaulah. Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan). Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” (Imam Syafi’i)

Jujur, Bee bersyukur orang tua mendukung dan kasi lampu hijau untuk merantau. Soalnya banyak teman saya yang sulit banget dapat Acc tinggal jauh dari rumah. Kalau kalian pengalaman di tanah rantaunya seperti apa? Atau baru ingin merantau? Atau nggak ingin merantau. Bee juga mau baca cerita kalian. Share di kolom komentar ya. Sekian curhat random ini: Sebelum dan Setelah Merantau. Selau bersyukur dan tebar kebaikan. Salam

Comments

  1. Aku juga orang merantau mbak dari bandung ke Tangerang. Kadang sebagai orang merantau seringkali dianggap sinis mba klo di tmptku. Tpi alhamdulillah aku orangnya cuek bebek, toh rejeki cari masing-masing. Paling senang kalau pulang kampung, cerita Jd banyak heheh

    ReplyDelete
  2. Saya belum pernah merantau. Sejak kecil, tinggal di sini aja. Jadi, suka penasaran seperti apa rasanya merantau :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts